Analisis Kebijakan Pertanian di Bantul
Tak bisa dipungkiri bahwa mayoritas rakyat Indonesia
adalah masyarakat agraris yang meng gantungkan kehidupan ekonominya dengan bertani.
Namun ironis, perhatian pemerintah atas sektor
ini sangatlah menyedihkan. Selama kurun satu dekade terakhir, sektor
pertanian kinerjanya merosot luar biasa dan para petani terjebak dalam
lingkaran kemiskinan yang akut.
Lemahnya visi pemerintah dalam pembangunan sektor
pertanian, kebijakan ekonomi makro yang tidak memihak petani, terbengkalainya
reforma agraria, dan transformasi setengah matang dari sektor pertanian ke sektor
industri menjadi faktor utama atas kemerosotan sektor pertanian. Belum lagi
masalah perubahan iklim ekstrim, semakin resistennya hama penyakit tanaman, mahalnya
harga asupan pupuk dan benih, dan watak yang kaku sektor pertanian membuat
petani terjebak dalam ekonomi subsisten. Petani pun sering merugi karena harga
produk pertaniannya anjlok akibat permainan tengkulak dan melimpahnya
persediaan.
Mandegnya regenerasi dan makin sempitnya lahan garapan
menjadi kepahitan tersendiri bagi petani. Belum lagi membanjirnya pangan impor
dengan harga murah yang telak menikam hidup petani. Keadaan ini terus berulang
dan pemerintah tak pernah berusaha dan mampu memecahkannya. Inilah potret suram
kehidupan petani di negeri ini. Hidup segan, mati pun enggan. Bantul dan
Strategi Memperbaiki Nasib Petani.
Bantul dan Strategi
Memperbaiki Nasib Petani
Bantul merupakan kabupaten di Yogyakarta yang mampu
membuat terobosan konkret dalam memperbaiki kehidupan 57 persen penduduknya
(450.300 jiwa) yang menggantungkan hidupnya sebagai petani. Kebijakan dan
kesigapan pemerintah daerah yang bekerja sampai level akar rumput, serta
masyarakat petani yang mengorganisir diri dalam organisasi kelompok tani menjadi
faktor penentu dalam perbaikan sektor yang kontribusinya atas PDRB Bantul
mencapai 28,21%. Langkah-langkah yang dilakukan Pemda Bantul untukmengangkat
kesejahteraan petaninya berpijak pada:
1. bagaimana agar
petani mendapat harga yang
layak atas hasil
pertaniannya.
2. bagaimana menekan
biaya produksi serendah mungkin.
Seorang petani di Desa Munding sedang membersihkan
gulma agar tanaman padinya tumbuh subur. Rata-rata petani di Bantul
berusia lanjut dan hanya sedikit dari pemudanya yang mau menggeluti sektor
Pemda Bantul melalui Surat Keputusan (SK) Bupati No.
12A/2003, menetapkan dan melindungi harga dasar tujuh komoditas unggulan yang
banyak ditanam petani Bantul, yakni: padi, kedelai, cabai, jagung, kacang
tanah, bawang merah dan tembakau agar petani bisa memperoleh harga hasil
produksi yang layak.
Penetapan harga dasar dibuat oleh tim khusus dari Dinas Pertanian dan Sekda
bagian perekonomian dengan prinsip tidak merugikan petani dan petani masih
bisa mendapat untung. Kebijakan ini dimaksudkan untuk menjaga stabilitas
harga pertanian yang saat panen raya jatuh akibat permainan tengkulak dan
pengijon. Sejak tahun 2002, Pemda telah menganggarkan dana Rp 3,5 milyar dari
dana APBD untuk mengintervensi pasar bila harga salah satu dari 7 komoditas
tersebut anjlok di bawah harga dasar. Tapi bila harga salah satu komoditas tersebut
di pasar harganya lebih tinggi dibanding harga dasar, petani dipersilahkan
untuk menjualnya ke pasar. Atas dukungan 715 kelompok tani (dengan total anggota
mencapai 74.376 orang) yang tersebar di setiap
dusun di Kab. Bantul, kebijakan penetapan harga pascapanen terhadap tujuh
komoditas unggulan tersebut dapat berjalan efektif. Para anggota kelompok
tani selalu menyimak dan mengikuti perkembangan harganya. Bila harga pasar
anjlok di bawah harga dasar saat panen tiba, kelompok tani segera memberi tahu petugas
pertanian di kecamatan. Atas informasi tersebut, petugas pertanian tersebut
langsung mendata dan mencatat asal kelompok tani yang melapor dan segera
meneruskannya ke petugas terkait di kabupaten. Selanjutnya petugas di kabupaten
segera melakukan koordinasi dan turun ke la
pangan untuk melakukan pembelian sesuai harga dasar yang ditetapkan. Operasi pasar biasanya dilakukan di area
kelompok tani itu berasal. Bila harga komoditas kembali normal sesuai harga
dasar, operasi pasar dihentikan dan petani dipersilakan menjualnya ke pasar.
Upaya
Perbaikan Usaha TanI
Strategi
Pemerintah Kab. Bantul untuk menekan biaya produksi adalah dengan memberi kredit
pupuk, pembangunan saluran irigasi, dan penggalakkan pemberantasan hama tikus. Pembangunan
saluran irigasi menjadi prioritas
Pemda untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Hal tersebut bisa ditilik
dari besaran sawah beririgasi yang luasnya mengalami kenaikan 10,10%, yaitu
dari 13.729 ha (tahun 2002) menjadi 14.553 ha (tahun 2003). Pemda juga telah
menganggarkan dana Rp 141 miliar untuk pembangunan jaringan irigasi yang akan
dilaksanakan dari tahun 2006-2009. Program ini diharapkan mampu mengairi
seluruh areal sawah Bantul yang luasnya mencapai 16.823,84 ha atau 33,19 % dari
luas Kab. Bantul (data Dinas Pertanian Kab. Bantul).
Pemda Bantul juga serius memberantas hama tikus yang
telah merusak 65 ha area sawah yang tersebar di 10 kecamatan. Bila hama tikus
merajalela, masyarakat tani atas dukungan pemda dan instansi terkait langsung
ikut turun ke lapangan guna menggalakkan gropyokan (berburu massal) membasmi tikus.
Di samping itu, Dinas Pertanian juga berinisiatif dengan melepaskan burung
hantu dan ular sawah sebagai predator alami untuk memberantas hama tikus. Atas
berbagai upaya tersebut di atas, Bantul mampu menghasilkan panen padi 138.782
ton dari seluruh luas areal sawah dan memperoleh surplus 23 ribu ton (tahun
2004). Namun, sifat kaku sektor pertanian membuat Pemda Bantul dalam jangka panjang
menganjurkan petani agar melakukan diversifikasi usaha dengan sektor
peternakan, perikanan, perkebunan untuk mendongkrak kesejahteraan hidup petani.
Di Kec. Sanden misalnya, Dinas Pertanian Bantul memperkenalkan konsep integrated
farming
antara pertanian dan peternakan agar selain bertani, petani juga memelihara
hewan ternak yang menghasilkan pupuk kandang, dan jerami padinya bisa digunakan
untuk pakan ternak.
Oase Penawar Kepahitan
Strategi Pemda Bantul dalam memecahkan persoalan yang
membelit petaninya banyak dicontoh oleh pemerintah daerah lain. Meski upaya
yang dilakukan Pemda Bantul belum maksimal dalam mengangkat kesejahteraan
sebagian besar petaninya, tapi setidaknya upaya tersebut telah menjadi oase penawar
kepahitan nasib petani. Pascadiberlakukannya kebijakan populis tersebut,
kehidupan petani bantul sedikit banyak terangkat kesejahteraannya. Gayung kebijakan
populis tersebut juga disambut masyarakat petani yang makin kritis dan intensif
mengorganisir diri dalam barisan kelompok tani untuk memperjuangkan kepentingan
dan memperkuat ikatan solidaritas antarsesama petani. Ini merupakan langkah
positif bagi terbentuknya masyarakat madani yang demokratis. Namun perlu
dicatat bahwa kebijakan populis tersebut lebih merupakan refleksi dari figur
seorang pemimpin yang populis dan efektif dalam menggerakkan keputusan
politiknya sampai ke sasaran (petani). Namun, masih banyak tantangan yang harus
segera dipecahkan untuk keberlanjutan dan perbaikan kebijakan ini di masa
depan. Di samping masih lemahnya payung hukum kebijakan tersebut, mental feodal
aparat dan belum terlembaganya tata pemerintahan yang populis akan selalu
menjadi mimpi
buruk bagi petani Bantul. Karenanya, agenda penguatan petani yang
terorganisir dalam gerakan sosial baru mendesak untuk dilakukan agar petani memiliki
daya tawar yang kuat dalam memperjuangkan
kepentingannya.
SUMBER : http://www.agriculturesnetwork.org/magazines/indonesia/12-kebijakan-pertanian/secercah-harapan-untuk-petani-bantul/at_download/article_pdf
blum ada yg komen ya?, ya udh ini aku komen bro. :D sukses buat blognya. yg bermanfaat ya post"nya. ditunggu post" yg lebih menarik.
ReplyDeletetulisannya di perbesar lgi ya mas widi ...
ReplyDeletedi bantul dimana nya??????????
ReplyDeleteLebih tepatnya dimana ya?
ReplyDeleteapakah anda sangat mengerti dengan postingan ini ?
ReplyDeleteberitanya sangat menarik.. lanjutkan!
ReplyDeleteagan iking, Rizal aan & moh samril : trimakasih sarannya ya gan
ReplyDeletesista alvi dan windi: di bantul daerah cepit sis :D
lanjutkan!!!
ReplyDeletesip aja lah
ReplyDeletekalo di sleman gimana?
ReplyDelete